Laman

Kamis, 06 Juni 2013

Eksotika Hutan Batu Shilin di China



Hutan Batu Shilin adalah sekumpulan formasi batu kapur yang spektakuler yang berada di Shilin Yi, Provinsi Yunnan, China. Destinasi alam ini berlokasi sekitar 120 km dari ibukota provinsi Kunming.

Formasi batuan tinggi itu tampaknya berasal dari tanah seperti stalagmit, yang sepintas mirip seperti pohon yang membatu sehingga menciptakan ilusi hutan yang terbuat dari batu. Beberapa formasi batu tersebut bahkan tingginya ada yang mencapai 30 meter lho. Wow menakjubkan!


Lebih dari 270 juta tahun yang lalu, proses geologi dan erosi air telah mengukir batuan kapur tersebut menjadi bentuk yang kita lihat sekarang. Formasi yang dihasilkan umumnya dikenal dengan sebutan karst - istilah Jerman untuk wilayah di Slovenia di mana proses semacam ini pertama kali diteliti.


Sebagaimana dilansir amusingplanet, Karst Hutan Batu masuk wilayah bagian Cina Selatan yang membentang di atas area seluas setengah juta kilometer persegi, yang terutama ditemukan di Yunnan, Guizhou dan provinsi Guangxi.

Hutan Batu Shilin juga menampilkan fitur karst superlatif dan lanskap yang tidak terlihat di tempat lain di dunia, dengan jangkauan puncak yang lebih luas dibandingkan dengan daerah karst lainnya, dan keragaman bentuk yang lebih tinggi. Berminat untuk mengunjunginya?
Read More..

Sokushinbutsu, 24 biarawan yang berubah jadi mumi


Tersebar di seluruh Utara Jepang, di sekitar Prefektur Yamagata, terdapat dua lusin mumi biarawan Jepang yang dikenal dengan sebutan Sokushinbutsu.

Sokushinbutsu melakukan sendiri mumifikasi mereka dengan teknik tertentu. Praktik ini pertama kali dirintis oleh seorang kepala biara bernama Kuukai lebih dari 1000 tahun yang lalu di kompleks candi Gunung Koya di prefektur Wakayama.

Kuukai adalah pendiri Shingon - sekte Budha - yang merupakan sekte yang muncul dengan ide pencerahan melalui hukuman fisik. Konon ratusan biksu, sebagaimana dilansir amusingplanet, telah mencoba praktik mumifikasi tersebut, tetapi hanya ada 16 dan 24 mumi yang berhasil ditemukan hingga kini.

Proses mumifikasi ini cukup rumit, dimulai dengan diet 1.000 hari. Selama masa itu, para biksu hanya akan makan makanan tertentu yang terdiri dari kacang-kacangan dan biji-bijian untuk melucuti semua lemak di tubuh mereka. Mereka kemudian hanya makan kulit dan akar selama seribu hari selanjutnya dan mulai minum teh beracun yang dibuat dari getah pohon Urushi, yang biasanya digunakan untuk pernis mangkuk.


Racun ini menyebabkan muntah dan hilangnya cairan tubuh dengan cepat, dan yang paling penting, itu membuat tubuh terlalu beracun untuk dimakan oleh belatung. Sampai pada tahap ini, seorang biarawan akan mulai memumifikasi tubuhnya sendiri dengan mengunci dirinya dalam kubur batu yang hampir tidak lebih besar dari ukuran tubuhnya.


Di situ, dia akan bersemedi dalam posisi lotus dan tidak akan bergerak lagi. Untuk berkoneksi dengan dunia luar, terdapat sebuah tabung udara dan bel yang ditempatkan di kubur batu tersebut. Setiap hari, dia akan membunyikan lonceng itu untuk memberi tanda pada orang di luar bahwa dia masih hidup.


Ketika bel berhenti berdentang, tabung udara itu kemudian dicabut dan makam disegel. Setelah kuburan itu disegel, para biarawan lain akan membacakan bait suci selama 1.000 hari, dan membuka kubur itu untuk melihat apakah mumifikasi berhasil. Dan jika mumifikasi itu berhasil, sang biksu akan dianggap sebagai Buddha dan dimasukkan ke dalam kuil untuk dipertontonkan.



Read More..

Cerita gunung bernyanyi di China


Cerita gunung bernyanyi di China
Terletak di Jalur Sutra, Gunung Pasir Echoing dikenal sebagai satu dari delapan lanskap terindah di Dunhuang dan satu dari empat destinasi "pasir bernyanyi" di China.

Gunung yang membentang sepanjang 40 km dengan lembar 20 km ini memiliki titik tertinggi mencapai 250 meter. Ketika angin bertiup kencang, gunung pasir itu akan terdengar seperti bernyanyi. Sebagaimana dilansir visitourchina.com, suara nyaring dari pasir itu bahkan terdengar seperti petikan alat musik kuno China.


Konon menurut cerita warga setempat, "nyanyian pasir" itu berasal dari perang yang terjadi antara dua pasukan. Namun siapa sangka, ketika sedang berperang, datang badai pasir luar biasa yang kemudian mengubur para tentara dan kuda-kuda mereka hidup-hidup.

Tetapi, kebanyakan orang tentu lebih percaya pada penjelasan ilmiah yang mengatakan suara itu terbentuk oleh aliran listrik statis, resonansi, atau gesekan antar pasir.
Danau bulan sabit
Selain menikmati kemerduan suara pasir Echoing, wisatawan juga disungguhkan keindahan danau berbentuk bulan sabit, Yueyaquan.

Danau Yueyaquan terletak 6 km di selatan Dunhuang, Provinsi Gansu, China. Menurut pengukuran yang dilakukan pada tahun 1960, kedalaman rata-rata danau adalah 4 sampai 5 meter, dengan kedalaman maksimum 7,5 meter. Sayangnya, kedalaman danau yang diberi nama Yueyaquan pada masa Dinasti Qing ini dalam 40 tahun berikutnya (memasuki tahun 2000) terus menurun.


Untuk itu, pada tahun 2006, pemerintah daerah dengan bantuan dari pemerintah pusat mulai mengisi danau dan mengembalikan kedalamannya.
Read More..

Hoba, situs meteorit terbesar di dunia

Hoba, situs meteorit terbesar di dunia

Meteorit Hoba ditemukan di sebuah peternakan Hoba West, tidak jauh dari Grootfontein, Otjozondjupa, Namibia.

Benda luar angkasa itu ditemukan oleh seorang petani bernama Jacobus Hermanus Brits, saat dirinya sedang mengolah salah satu lahannya pada tahun 1920. Tak disangka, sesuatu yang keras menahan bajaknya. Yang ternyata, itu adalah meteorit.


Meteorit pun segera digali, namun karena itu begitu besar (sekitar 60 ton), benda itu tidak pernah dipindahkan sampai sekarang. Meteorit Hoba tidak hanya dikenal sebagai meteorit terbesar, tetapi juga sebagai potongan paling besar yang sampai ke permukaan bumi.


Meteorit Hoba, sebagaimana dilansir amusingplanet, diperkirakan telah mendarat kurang dari 80.000 tahun yang lalu. Anehnya, meteorit ini tidak terlihat menyisakan lubang besar di sekitarnya. Menurut para ahli, hal ini dikarenakan meteorit itu memasuki atmosfer bumi pada sudut yang sangat rendah, yang diperlambat oleh atmosfer ke titik jatuhnya di permukaan bumi pada kecepatan terminal, sehingga benda luar angkasa itu masih tersisa utuh dan hanya menyisakan sedikit lubang.

Pada tahun 1920, massa dari meteorit yang berukuran 2,6 meter ini diperkirakan mencapai 66 ton. Namun sayangnya, erosi, sampling ilmiah dan vandalisme telah mengurangi massa dari meteorit selama bertahun-tahun sehingga menjadi 60 ton. Bahkan, bekas alur gergaji besi dapat dilihat dengan mudah di beberapa bagian di permukaan meteorit.


Dalam upaya untuk mengendalikan vandalisme, Meteorit Hoba dinyatakan sebagai Monumen Nasional pada tahun 1955. Walau demikian, vandalisme pada meteorit terus berlangsung sampai Foundation Rössing akhirnya mendanai restorasi dan pelestarian meteorit itu pada tahun 1988 secara menyeluruh. Dan kini, tempat jatuhnya Meteorit Hoba menjadi pusat wisata yang dikunjungi oleh ribuan wisawatan setiap tahun.
Read More..

Baobab, legenda pohon yang tumbuh terbalik

Adansonia digitata atau juga disebut Baobab, adalah sebuah pohon berbentuk aneh yang tumbuh di daerah dataran rendah di Afrika dan Australia.


Baobab juga dinamai pohon terbalik karena ketika ranting pohon itu tidak berdaun, cabang-cabang Baobab terlihat seperti akar yang mencuat ke udara, seolah-olah itu ditanam terbalik. Menurut legenda, konon dewa Thora yang merasa tidak suka karena Baobab tumbuh di kebunnya, melemparkan pohon itu dari surga ke bumi. Dan meskipun pohon itu mendarat dengan posisi terbalik, Baobab masih terus tumbuh.


Adapun cerita lain menyebutkan bahwa ketika Baobab ditanam oleh Tuhan, pohon itu terus berjalan, sehingga Tuhan mencabutnya dan menanamnya terbalik untuk membuatnya berhenti bergerak. Baobab dapat tumbuh mencapai ketinggian 5 sampai 30 meter dan memiliki diameter batang 7 sampai 11 meter.


Sampai sekarang, pohon Baobab memiliki keliling 47 meter dengan diameter diperkirakan sekitar 15,9 meter. Hebatnya lagi, Baobab juga terkenal sebagai pohon yang hidup ribuan tahun. Penduduk Afrika bahkan sangat menghormati Baobab karena telah memberi kehidupan pada mereka.


Selain menjadi sumber penghasil kayu, batang Baobab sering dilubangi oleh penduduk untuk digunakan sebagai tempat tinggal, tempat penyimpanan biji-bijian atau waduk air. Lubang pada batang Baobab juga sering dimanfaatkan sebagai situs pemakaman.


Beberapa produk paling penting yang berasal dari kulit pohon Baobab - yang mengandung serat - digunakan untuk membuat jaring ikan, tali, karung dan pakaian. Kulit pohon itu juga bisa ditumbuk menjadi bubuk untuk penyedap makanan. Secara tradisional, daun Baobab bahkan kerap digunakan untuk ragi dan sayuran.

Buah-buahan dan biji dari Baobab, sebagaimana dilansir amusingplanet, juga dikonsumsi oleh penduduk setempat dan hewan-hewan ternak. Daging buah Baobab, ketika dikeringkan dan dicampur dengan air, juga bisa dibuat minuman yang rasanya mirip dengan limun. Wow menakjubkan!
Read More..

Keren, pohon ini berwarna seperti pelangi!


Alam memiliki beragam keajaiban yang tak bisa dibuat oleh manusia. Salah satunya adalah pohon-pohon unik dengan warna seperti pelangi ini.


Jika dilihat sepintas, Anda mungkin berpikir bahwa batang pohon itu telah dicat. Padahal, warna-warna itu hadir secara alami tanpa manipulasi manusia. Pohon aneh itu disebut Eucalyptus deglupta, atau umumnya dikenal sebagai Rainbow Eucalyptus, Mindanao Gum, dan Rainbow Gum.
Pohon unik itu memiliki beragam warna pada batangnya yang berasal dari bercak-bercak di kulit luar batang. Anda bisa menemukan beberapa warna yang dominan seperti biru, ungu, oranye, hijau tua, dan merah marun.


Eucalyptus deglupta merupakan satu-satunya spesies Eucalyptus yang tumbuh secara alami di belahan bumi utara. Pohon ini paling banyak dijumpai di Inggris, Papua Nugini, Seram, Sulawesi dan Mindanao. Kini, pohon tersebut dibudidayakan secara luas di seluruh dunia, terutama karena bubur kayunya digunakan dalam pembuatan kertas dan hiasan.
Read More..

Ajaib, jalan ini muncul di tengah lautan!


 
Masih ingat kisah Musa membelah Laut Merah? Keajaiban itu juga terjadi di Korea setiap tahunnya.

Jindo adalah daerah kepulauan yang terdiri dari 250 pulau, di mana Pulau Jindo adalah pulau ketiga terbesar di Korea Selatan. Setiap tahun, pada akhir bulan Februari dan pertengahan Juni, pasang air laut sangat rendah yang menyebabkan dasar laut dengan panjang 2,9 km dan lebar 10-40 meter muncul ke permukaan. Jalan lintas itu pun menghubungkan pulau utama Jindo dan pulau kecil Modo di selatan Jindo.


Jalan itu akan kering selama sekitar satu jam, sebelum akhirnya tenggelam lagi. Untuk merayakan munculnya jalan di tengah laut itu, penduduk Korea mengadakan festival lokal yang disebut Jalan Laut Sindo. Semua penduduk dan wisatawan berkumpul untuk menyaksikan fenomena alam itu dan menikmati sensasi berjalan-jalan di tengah lautan yang terbelah.


Menurut legenda setempat, dahulu terdapat banyak harimau di Pulau Jindo. Ketika harimau mulai sering muncul di desa, orang-orang memutuskan untuk melarikan diri ke Pulau Modo. Yang tanpa sengaja meninggalkan seorang wanita tua bernama Ppong. Wanita tua itu rindu berkumpul kembali dengan keluarganya yang telah menyeberang ke pulau Modo dan kemudian berdoa kepada Raja Naga.


Lalu pada suatu malam, Raja Naga menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan menyuruhnya untuk menyeberangi laut dengan berjalan di atas pelangi. Ketika Ppong terbangun keesokan harinya, ia berlari ke laut dan melihat dasar laut telah surut.

Jalan lintas ini awalnya tidak diketahui dunia sampai pada tahun 1975, seorang pria Perancis Pierre Randi menggambarkan fenomena tersebut dalam surat kabar Perancis. Kini, hampir setengah juta turis asing dan lokal menghadiri acara tersebut setiap tahunnya.
Read More..